Kegiatan Pemanfaatan Bonggol Pisang dilaksanakan di Desa Karangpawitan dan desa Padaherang melihat potensi dari kedua desa tersebut merupakan penghasil pisang. Bentuk kegiatan ini berupa penyuluhan dari tim dosen dari Unpad yang terdiri dari 3 orang dengan memaparkan materi mengenai pemanfaatan bonggol pisang dan tahap tahap pembuatan tepung dari bonggol pisang tersebut. Pada awalnya kegiatan ini akan dilaksanakan d Balai Desa Karangpawitan, namun karena adanya beberapa hal yang menyebabkan pelatihan tersebut tidak dapat dilaksanakan di Balai Desa Karangpawitan, diantaranya yaitu kurangnya jumlah kursi untuk para peserta yang akan menghadiri acara tersebut, belum tersedianya soundsystem yang memadai. Sehingga pada akhirnya tempat pelaksanaan diadakan di Gedung Dakwah Islam Kecamatan Padaherang.
Respon dari sasaran dapat dikatakan baik, mereka berpartisipasi secara aktif dalam mengikuti kegiatan ini dengan jumlah peserta yang menghadiri acara ini cukup banyak, diantaranya dari desa Karangpawitan jumlah peserta yang hadir berjumlah 29 orang dan dari desa Padaherang berjumlah 19 orang. Adapun kendala yang dihadapi diantaranya kunjungan sasaran yang tidak dapat hadir karena jarak tempat pelaksanaan dengan tempat tinggal sasaran berjauhan sehingga untuk mencapai tempat pelaksanaan memerlukan kendaraan. Adapun untuk mengatasi masalah tersebut penyelenggara acara menyediakan tranportasi untuk penjemputan sasaran.
Kegiatan penyuluhan bonggol pisang ini dimaksudkan untuk menggali potensi bonggol yang ada di desa Karangpawitan dan desa Padaherang sehingga dapat dijadikan bahan pangan alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai macam formulasi produk guna menunjang ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan masyarakat
Kegiatan Pemanfaatan Bonggol Pisang dilaksanakan di Desa Karangpawitan dan desa Padaherang melihat potensi dari kedua desa tersebut merupakan penghasil pisang. Bentuk kegiatan ini berupa penyuluhan dari tim dosen dari Unpad yang terdiri dari 3 orang dengan memaparkan materi mengenai pemanfaatan bonggol pisang dan tahap tahap pembuatan tepung dari bonggol pisang tersebut. Pada awalnya kegiatan ini akan dilaksanakan d Balai Desa Karangpawitan, namun karena adanya beberapa hal yang menyebabkan pelatihan tersebut tidak dapat dilaksanakan di Balai Desa Karangpawitan, diantaranya yaitu kurangnya jumlah kursi untuk para peserta yang akan menghadiri acara tersebut, belum tersedianya soundsystem yang memadai. Sehingga pada akhirnya tempat pelaksanaan diadakan di Gedung Dakwah Islam Kecamatan Padaherang.
Respon dari sasaran dapat dikatakan baik, mereka berpartisipasi secara aktif dalam mengikuti kegiatan ini dengan jumlah peserta yang menghadiri acara ini cukup banyak, diantaranya dari desa Karangpawitan jumlah peserta yang hadir berjumlah 29 orang dan dari desa Padaherang berjumlah 19 orang. Adapun kendala yang dihadapi diantaranya kunjungan sasaran yang tidak dapat hadir karena jarak tempat pelaksanaan dengan tempat tinggal sasaran berjauhan sehingga untuk mencapai tempat pelaksanaan memerlukan kendaraan. Adapun untuk mengatasi masalah tersebut penyelenggara acara menyediakan tranportasi untuk penjemputan sasaran.
Kegiatan penyuluhan bonggol pisang ini dimaksudkan untuk menggali potensi bonggol yang ada di desa Karangpawitan dan desa Padaherang sehingga dapat dijadikan bahan pangan alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai macam formulasi produk guna menunjang ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan masyarakat
Penyuluhan Pertanian dan Perikanan diadakan di Dusun Sindangkerta dikarenakan oleh permintaan dari Pak Kadus yang sangat merespon kegiatan mengenai pertanian dan perikanan. Disini kami memberikan penyuluhan tentang bagaimana pembuatan pupuk kompos, pembuatan tepung dari limbah bonggol pisang, dan pembuatan pakan ternak dari limbah bungkil kelapa. Penyuluhan Pertanian dan Perikanan diadakan dengan memberikan pemaparan tentang cara pembuatan yang dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan pupuk kompos, pakan ternak, maupun tepung dari bonggol pisang.
Respon dari sasaran dapat dikatakan dengan baik, para warga sangat berpartisipasi dalam mengikuti rangkaian kegiatan ini. Adapun kendala yang dihadapi adalah kurangnya kunjungan warga dari dusun yang berbeda. Hal ini dapat dikarenakan sulitnya transportasi ke Dusun Sindangkerta.
Kegiatan Penyuluhan Pertanian dan Perikanan dimaksudkan agar masyarakat dapat menggunakan limbah rumah tangga maupun perkebunan untuk dijadikan barang yang mempunyai nilai guna lebih tinggi. Tujuan ini didasarkan untuk mengurangi sampah organik yang dapat merusak lingkungan dan mengembangkan potensi yang ada di Desa Karangpawitan itu sendiri yang mana memiliki pohon pisang dan kelapa yang cukup banyak begitu juga dengan persawahannya. Dengan diadakan kegiatan ini diharapkan warga dapat lebih antusias dalam pembuatan pupuk, pakan ternak, maupun bonggol pisang. Sehingga mereka tidak harus membeli pupuk atau pakan ternak, melainkan cukup membuat dari sampah organik ataupun limbah bungkil kelapa.
Kesimpulan
Kegiatan Penyuluhan Pertanian dan Perikanan berjalan cukup baik dan bermanfaat bagi warga desa Karangpawitan, bahkan bagi mahasiswa itu sendiri. Antusiasme warga juga sangat baik yang diharapkan bisa membawa manfaat yang baik untuk Desa Karangpawitan. Namun hal yang dapat disayangkan adalah kurangnya jumlah undangan yang hadir di acara Penyuluhan ini.
Saran
Program yang kami bikin dengan tema hari komunikasi ini bertujuan untuk mengenalkan komunikasi pada siswa baru di SMP Negeri 1 Padaherang. Pertama kali mengajukan kegiatan ini kepada pihak sekolah, alhamdulilah mendapatkan respon yang baik, dengan menyesuaikan jadwal pada kegiatan MOPD (masa orientasi peserta didik), maka program ini dilaksanakan pada hari Rabu, 22 Juni 2010, berlangsung dari pukul 09.30-13.00.
Ada beberapa hal yang menghambat kegiatan ini untuk berlangsung dengan baik, diantaranya fasilitas pengeras suara yang kurang memadai, ruangan yang kurang luas, serta peserta didik yang kurang interaktif dan sulit untuk diarahkan. Namun hambatan-hambatan tersebut tidak berpengaruh pada tujuan diadakannya kegiatan ini, yaitu mengenalkan kegiatan berkomunikasi. Awal dari berkomunikasi adalah mendapatkan dan mengolah informasi, kemudian informasi tersebut di sebarkan atau disampaikan kepada khalayak, baik secara verbal maupun melalui media cetak. Informasi yang di sebarkan melalui media cetak, kami mengaplikasikan melalui majalah dinding, maka dari itu kamipun memberikan materi tentang penulisan informasi dengan gaya yang menarik.
Peserta yang mengikuti kegiatan kami adalah siswa-siswi yang baru menempuh jenjang pendidikan menengah pertama, meskipun agak sukar untuk di arahkan tetapi antusiasme siswa-siswi dalam mengikuti kegiatan ini cukup bagus. Mereka mengikuti semua proses kegiatan kami dari pemberian materi, pengaplikasian materi melalui permainan hingga pengaplikasian penulisan pada majalah dinding.
Pihak sekolahpun memberikan respon dan bantuan demi berlangsungnya kegiatan kami dengan baik.
Kesimpulan
Kegiatan ini cukup melelahkan dikarenakan faktor peserta didik yang agak sukar untuk diarahkan dengan jumlah peserta didik yang sangat banyak (360siswa). Namun maksud dan tujuan dari kegiatan ini tersampaikan dengan baik dilihat dari pemahaman peserta didik.
Posyandu adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas, dimana pelaksanaannya dilakukan di tiap kelurahan/RW. Kegiatannya berupa KIA, KB, P2M (Imunisasi dan Penanggulangan Diare), dan Gizi (Penimbangan Balita). Untuk sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui, wanita usia subur (WUS) (Muninjaya, 2004). Posyandu diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehtan setempat, dimana dalam satu unit posyandu idealnya melayani sekitar 100 balita (120 KK) yang disesuaikan dengan kemampuan petugas dan keadaan setempat yang dibuka sebulan sekali, dilaksanakan oleh kader posyandu terlatih di bidang KB, yang bertujuan mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran (Depkes, 2000).
Posyandu memiliki strata atau jenjang tersendiri, Strata posyandu menurut “ARRIF” dikelompokkan menjadi 4, yaitu :
1. Posyandu Pratama (warna merah) : belum mantap, kegiatan belum rutin, dan kader terbatas.
2. Posyandu Madya (warna kuning) : kegiatan lebih teratur dan Jumlah kader 5 orang
3. Posyandu Purnama (Warna hijau) : kegiatan sudah teratur, cakupan program/kegiatannya baik, jumlah kader 5 orang, dan mempunyai program tambahan
4. Posyandu Mandiri (warna biru) : kegiatan secara terahir dan mantap, cakupan program/kegiatan baik, dan memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap.
Posyandu akan mencapai strata Posyandu Mandiri sangat tergantung kepada kemampuan, keterampilan diiringi rasa memiliki serta tanggungjawab kader PKK, LKMD sebagai pengelola dan yang terpenting masyarakat sebagai pemakai dari pendukung Posyandu.
Data yang ditemukan kebanyakan posyandu di Karangpawitan berada di strata madya. Sedangkan data mengenai kunjungan ke posyandu di Desa Karangpawitan hanya berkisar 40-60 % dari sasaran. Hal ini menunjukkan masih rendahnya minat masyarakat untuk melakukan kunjungan rutin ke posyandu. Hal ini akan dapat menjadi permasalahan ketika status kesehatan bayi atau balita menjadi tidak terkontrol lagi juga stagnansi strata posyandu di Desa Karangpawitan.
Dengan adanya posyandu sebagai ujung tombak informasi, maka permasalahan yang muncul tentang kesehatan akan cepat diketahui, terutama pada pemanfaatan meja penyuluhan karena jika terjadi gizi buruk atau masalah lain pada bayi dan balita dapat segera diatasi.
Melalui kegiatan ”PANDU (Penyuluhan Posyandu)” yang akan dilaksanakan pada setiap kegiatan posyandu diharapkan dapat menambah pengetahuan dan motivasi ibu bayi atau balita tentang pentingnya melakukan kunjungan rutin ke posyandu sehingga dengan demikian status kesehatan bayi atau balita dapat meningkat, begitupun dengan strata posyandu di Desa Karangpawitan
a. Keadaan Geografis
Desa karangpawitan secara administrative termasuk wilayah kecamatan Padaherang, jarak ke ibukota Kecamatan sejauh 1km, ke Ibukota Kabupaten 50 km dan ke Ibukota Provinsi 180km.
Desa karangpawitan terletak diantara batas-batas wilayah adminstrasi pemerintahan sebagai berikut:
1. Sebelah utara: berbatasan dengan desa kedungwuluh dan desa sukamaju
2. Sebelah selatan: berbatasan dengan desa padaherang dan desa karangsari
3. Sebelah timur : berbatasan dengan desa paledah dan desa maruyungsari
4. Sebelah barat: berbatasan dengan desa padaherang
Desa karangpawitan terbagi menjadi lima dusun, yaitu:
1. Dusun patinggen I
2. Dusun patinggen II
3. Dusun harjaresik
4. Dusun sindangratu
5. Dusun sindangkerta
Sedangkan jumlah rukun warga ada 13 RW dan 41 RT.
Desa Karangpawitan berdasarkan keadaan topografi termasuk ke dalam dataran rendah. Perkiraan tipe iklim di Desa Karangpawitan berkisar 20-400C.
b. Luas Lahan dan Penggunaanya
Luas lahan Desa Karangpawitan adalah 661.477 Ha.
Tabel.
Jenis Penggunaan lahan dan Luas di Desa Karangpawitan Kecamatan Padaherang tahun 2007
No.
Jenis penggunaan lahan
Luas (Ha)
Persentase (%)
1.
Industri
0,50
0,076
2.
Perkantoran
0,23
0,036
3.
Tanah wakaf
1,00
0,151
4.
Sawah / pertanian
494,995
74,832
5.
Pekarangan
134,588
20,347
6.
Pemukiman
11,332
1,713
7.
Perkebunan rakyat
11,913
1,80
8.
Jalan
4,193
0,633
9.
Lain-lain
2,726
0,412
Jumlah
661,477
100,00
Tabel tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan lahan yang paling luas adalah pertanian, yaitu 494,995 Ha (74,832%). Hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah Desa Karangpawitan adalah lahan pertanian. Hal ini bisa membantu dalam upaya penanggulangan rawan pangan khususnya di Kecamatan Padaherang dengan hasil produksi rata-rata mencapai 7-8,5 ton/Ha. Upaya ini dilakukan atas kerjasama pemerintah desa dengan para kelompok tani dan PPL, dalam melaksanakan program pemerintah yaitu peningkatan produksi beras nasional.
c. Keadaan Sosial Ekonomi
1. Keadaan penduduk
Jumlah penduduk Desa Karangpawitan pada tahun 2007 tercatat 7.098 jiwa, terdiri dari 3.623 laki dan 3.475 perempuan. Jumlah KK 2.025 KK. Selengkapnya keadaan penduduk berdasarkan komposisi kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:
Table.
Keadaan Penduduk Berdasarkan Komposisi Umur dan Jenis Kelamin
Di Desa Karangpawitan Kecamatan Padaherang Kabupaten Ciamis
NO
Golongan Umur / Tahun
Banyaknya Penduduk (orang)
Peresntasi
(%)
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
0-4
246
214
460
6,48
2
5-9
354
329
681
9,59
3
10-14
356
308
664
9,35
4
15-19
346
283
629
8,86
5
20-24
334
273
607
8,55
6
25-29
278
252
530
7,47
7
30-34
216
268
484
6,82
8
35-39
276
297
573
8,07
9
40-44
234
252
486
6,85
10
45-49
242
286
510
7,19
11
50-54
223
213
436
6,14
12
55-59
179
167
346
4,88
13
60-64
102
104
206
2,90
14
65-69
103
107
210
2,96
15
70-74
54
63
117
1,65
16
>75
82
77
159
2,24
Jumlah
3.623
3.475
7.098
100,00
Berdasarkan table di atas dapat diketahui bahwa penduduk yang paling banyak di Desa karangpawitan berada pada usia produktif (15-64 tahun) sebesar 4.807 orang sekitar 67,72 persen. Sedangkan penduduk bukan usia produktif golongan umur 0-14 tahun sebesar 1.805 orang atau sekitar 25,43 % dan penduduk bukan produktif golongan umur >65 tahun 486 orang sekita 6,85%.
Tabel di atas juga dapat digunakan untuk mengetahui struktur umum penduduk Desa Karangpawitan dengan menggunakan uji 40%
2. Keadaan Pendidikan
Pendidikan masyarakat baik berupa pendidikan formal maupun non formal merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi pada penerapan teknologi baru di pedesaan artinya cepat atau lambatnya satu teknologi baru diterapkan tergantung pada jenjang pendidikan penduduk di suatu tempat.
Adapun keadaan penduduk berdasarkan berdasarkan tingkat pendidikan formal desa karangpawitan tertera pada table dibawah.
Table.
Keadaaan penduduk Desa karangpawitan
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Formal
NO
Tingkat Pendidikan
Jumlah Pendidikan (orang)
Persentase (%)
1
Tidak/Beum Sekolah
2.494
35,14
2
Tidak Tamat SD / Sederajat
391
5,51
3
Tamat SD/Sederajat
2.550
35,93
4
SLTP/Sederajat
901
12,69
5
SLTA/Sederajat
595
8,38
6
Diploma I / II
52
0,73
7
Akademik / Diploma III
57
0,80
8
Diploma IV / Strata I (SI)
53
0,75
9
Strata II
4
0,06
10
Strata III (Doktor)
1
0,01
Jumlah
7.098
100,00
Berdasarkan data pada table di atas, ternyata penduduk desa karangpawitan masih banyak yang belum tamat pendidikan dasar hal ini yang perlu bekerja sama semua pihak sehingga apa yang di programkan oleh pemerintah mengenai peningkatan IPM khususnya bidang pendidikan bisa tercapai.
Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam upaya menekankan angka drop out terutama pada siswa Sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, dan semua itu dilakukan dengan berkoordinasi dengan sekolah yang ada di wilayah desa juga dengan para tokoh masyarakat, pemerintah desa juga berupaya untuk menginventaris data keluarga miskin guna diajukan supaya mendapat beasiswa ataupun bantuan lainnya dari pemerintah.
d. Mata Pencaharian Penduduk
Mata pencaharian penduduk desa karangpawitan sebagian besar bertani dan yang lainnya bermacam-macam ada pedagang, buruh, pertukangan, wiraswasta, PNS, pensiunan dan lainya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam table di bawah ini.
Table.
Keadaan Penduduk Desa karangpawitan
Berdasarkan Mata Pencaharian
No
Jenis Mata Pencaharian
Jumlah (Orang)
Persentase (%)
1
Pegawai Negeri Sipil
139
4,64
2
Polri / TNI
6
0,20
3
Wiraswasta
125
4,18
4
Pedagang
524
17,50
5
Tani
1.726
57,65
6
Pertukangan
168
5,61
7
Buruh Tani
139
4,64
8
Pensiunan
87
2,91
9
Jasa
80
2,67
Jumlah
2.994
Berdasarkan table di atas, diketahui bahwa sebagian besar penduduk desa karangpawitan yaitu petani, hal tersebut disebabkan sebagian luas desa karangpawitan adalah pertanian, tetapi banyak kesempatan bagi banyak kesempatan bagi masyarakat untuk berusaha sendiri di bidang yang mereka kuasai ataupun hanya menjadi seorang buruh tani.
e. Kesehatan
Upaya penanganan kesehatan masyarakat desa karangpawitan sampai saat ini masih bisa ditangani secara cepat, karena dengan adanya tenaga kesehatan yang ada di desa, yaitu dokter atau mantra, perawat, bidan dan kader pos yandu serta itu juga ditunjang dengan paguyuban sehat siaga.
Dengan adanya tenaga-tenaga kesehatan tersebut pelayanan kesehatan terhadap masyarakat di desa karangpawitan bisa dilaksanakan, selain itu juga ditunjang dengan letak puskesmas yang tidak jauh dari desa.
Guna pelayanan terhadap masyarakat miskin, pemerintah desa memberikan pelayanan terhadap masyarakat dengan menginvetarisir dan mengajukan masyarakat yang tergolong keluarga miskin/mampu. Untuk mendapatkna kartu jamkesmas. Sehingga masyarakat yang tergolong miskin bisa menikmati pelayan kesehatan secara gratis di rumah sakit. Walaupun masih banyak keluarga miskin yang menerima kartu jamkesmas tetapi pemerintah desa berupaya membantu dengan memberikan rekomendasi dengan surat keteranngan tidak mampu atau surat keterangan miskin.
Dan dalam upaya pelayanan bidang kesehatan, pemerintah desapun berupaya memberikan pelayanan terbaik masyarakat dengan ikut menguruskan atau mengantarkan pasien ke Rumah Sakit.
Bentuknya coklat panjang, kadang pipih seperti keripik dan dibalut tepung supaya renyah. Bentuknya memang terlihat tidak sedap di pandang, namun rasanya meninggalkan rasa manis di ujung lidah dan membuat para pemakannya candu sehingga tak henti-hentinya memakan makanan yang satu ini. Makanan ini dinamakan Salegor.
Salegor merupakan makanan yang terbuat dari pisang, bisa pisang jenis siam dan jenis ambon. Pisang ini di sale kemudian digoreng dengan balutan tepung. Makanan ini memang merupakan sale pisang, namun masyarakat Desa Karangpawitan menyebutnya Salegor atau sale digoreng. Salegor ini merupakan salah satu makanan khas yang ada di Desa Karangpawitan. Salegor dari Desa Karangpawitan paling dicari para pelancong ataupun para penikmat sale pisang.
Rasanya yang berbeda, manis dan gurih yang berbeda membuat sale ini sangat terkenal baik dikalangan masyarakat desa maupun para pelancong. Sale ini menjadi makanan yang direkomendasikan masyarakat desa untuk dijadikan buah tanggan jika ada masyakarat yang melancong ke desa mereka.
Pembuatan sale ini terbilang gampang, pisang dipotong-potong sesuai selera kemudian di jemur dibawah terik matahari atau bisa juga diasap supaya memberikan rasa sensasi sale yang berbeda. Kemudian sale yang telah kering ini dibaluti tepung dan digoreng, kemudian jadilah sale pisang yang nikmat.
Sebenarnya ada beberapa bumbu rahasia lagi yang membuat salegor di desa ini nikmat tak tertandingi, namun para pembuatnya merahasiakannya karena merupakan resep rahasia turun temurun. (*nda)

Sering makan kolak pisang, yang disantap saat berbuka puasa. Warna coklat dan rasa manis yang terdapat pada kolak tersebut di dapat dari si coklat bulat yang manis. Si Coklat bulat ini bisa saja berupa gula aren, gula tebu atau gula kelapa. Pemanis ini diolah dari hasil saripati buah aren, tebu dan kelapa, yang dimasak sehingga nantinya menjadi karamel kental berwarna coklat.
Seperti yang disebutkan di atas, gula ini di dapat dari saripati dari buah tersebut. Untuk buah kepala dan aren yang diambil saat sibuah masih menjadi putik atau bakal buah. sari pati diambil langsung dari pohonnya dengan cara memotong si cikal bakal buah sehingga menggeluarjan cairan. Cairan inilah yang kemudian ditampung dan dijadikan bahan pembuat gula.
Cairan yang keluar dari bakal buah ini ditampung seharian, sehingga cairan yang terkumpul banyak. Cairan ini kemudian dimasak sampai kemudian menjadi kental dan berwarna kecoklatan. Untuk menghasilkan cairan yang kental ini di butuhkkan waktu 6 jam untuk pembuatan 5 liter cairan ini. Dan kemudian didinginkan dan dicetak ke dalam wadah yang berbentuk bulat, dan jadilah gula kelapa dalam bentuk bundar coklat.
Untuk dari segi rasa, gula kelapa dan gula aren tidak jauh berbeda. Namun dari segi rasa lebih gurih dan nikmat gula aren. Gula kelapa ini, juga bisa dimakan sebagai kudapan, layaknya permen. Atau bahan pelengkap kue dan makanan lainnya (nda)